I Found My Soul in Seoul (Naskah Cerpen)

“Nad, lu seriusan mau lanjut kuliah di Seoul?”

“Pesen minum dulu sono lu, entar aja interogasinya.” jawabku sambil membaca novelku.

“Dih, galak amat. Lagi dapet lu?”

“Bayar sendiri gih.”

“Oh, tidak bisa begitu. Iye nih gue pesen nih.” ucapnya sembari memanggil mas-mas pelayan kafe.

Setelah selesai memesan beberapa menu, Lala mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya.

 “Eh, Nad. Lu kan sekarang ambil kuliah Sastra Arab nih, terus ntar kalau S2 di Korea, mau ambil apa lu?” tanya Lala tiba-tiba.

“Political Science mungkin. Gak nyambung ya?”

Lala tersenyum mendengar jawabanku. Aku hanya tersenyum kecut sambil mengalihkan pandanganku ke luar jendela kafe ini.

“Seoul National University kan?” tanya Lala

“Iya.”

“Bisa kok lu. Gue yakin lu pasti bisa.” ucap Lala

Aku yang mendengar ucapan Lala hanya tersenyum tipis.

“Kalau lu mau ngambil apa dan di universitas mana?” tanyaku pada Lala

“Manajemen. Seoul National University juga lah.” jawabnya

“Keren lu. Ntar jadi manajer gue ya.”

“Lah ngapa woy? Mau jadi apa lu emang?”

“Model.” jawabku enteng

“Lah gila lu.” sarkasnya sambil tertawa.

“Siapa tau bisa collab sama BTS.” ujarku

“Gue Aamiin-in aja deh ya. Siapa tau jadi kenyataan kan.”

“Iya dong. Pulang yuk.”

“Yuk.”

Aku tersenyum ketika mengingat kejadian 2 tahun yang lalu itu. Percakapan absurd antara aku dan sahabatku di sebuah kafe langganan kami.

“Woy, ngapain lu senyum-senyum?”

“Yaa Allah Lala, kaget gue.”

“Hehe. Maap. Lu ngapain senyum-senyum sendiri woy? Keliatan dari luar. Kaya orang gila lu. Beneran dah.”

“Gak punya akhlak emang nih orang. Gak ngerti kenapa tiba-tiba gue keinget percakapan absurd kita dulu di Light Cafe.”

“Hahaha yang kita ngobrol soal kuliah S2 itu kan? Terus yang lu bilang mau jadi model dan gue jadi manajernya?”

“Haha, iya. Absurd banget ya.”

“Gue masih ga nyangka kita ada di Seoul sekarang. Sumpah.”

“Iya ya, setelah banyak perjuangan yang harus kita lalui. Akhrnya kita bisa ada di sini sekarang.”

“Ah, baper banget gue. Mau nangis.”

Aku hanya memutar bola mataku sambil tersenyum dan mengalihkan pandanganku ke luar jendela kafe. Tiba-tiba handphone milik Lala berdering, sepertinya dia memiliki janji dengan seseorang. Karena setelah menutup telfon, dia cemberut.

“Nad, gue harus pergi sekarang. Maaf ya, ada rapat dadakan nih.” Ucap Lala

“Oh, iya La. Hati-hati ya.”

“Cepet pulang, Nad. Kayanya bentar lagi turun salju deh.”

“Iya, La.”

“Yaudah, gue pergi ya. See you tomorrow at the concert.” ucap Lala sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Aku membalas lambaian tangannya sambil tersenyum. Kemudian aku melanjutkan membaca novel yang belum selesai kubaca. Setelah selesai membaca novel itu, aku memandang ke luar jendela. Ah, ternyata turun salju di luar sana. Salju pertamaku di Seoul. Dan celakanya, aku hanya memakai kaos tipis berlengan panjang, celana kulot dan jaket levis sekarang ini.  

Karena hari sudah sangat sore, aku pun segera beranjak dari kursiku dan berjalan mendekati pintu keluar. Setelah mencoba memberanikan diri, akhirnya kakiku berhasil menapak di tanah yang tertutup salju. Ah, dingin sekali. Aku pun segera berlari menuju halte bus dan menunggu bus ku datang. Aku menunggu hingga 10 menit, tapi bus yang kutunggu tak kunjung datang.

Mulai muncul kemerahan di kulitku, dan dadaku menjadi sedikit sesak. Aku rasa aku tidak mampu bertahan lebih dari 10 menit di luar sini karena aku memiliki penyakit urtikaria dingin atau biasa disebut dengan alergi dingin. Mataku mulai memerah dan berair. Penyakit urtikaria dinginku memang cukup parah, dan reaksi tubuhku terhadap udara dan cuaca yang dingin memang sangat cepat. Pada umumnya, orang yang memiliki penyakit urtikaria dingin akan merasakan gejalanya ketika mereka berada di cuaca, suhu, dan udara yang cukup dingin dalam waktu sekitar 30 menit. Tapi aku hanya butuh waktu 10 menit untuk merasakan gejala penyakitku ini. Dan parahnya lagi, aku tidak membawa obatku saat ini.

Untung saja bus yang kutunggu sudah datang. Aku pun segera menaiki bus ini. Bus ini sangat penuh. Aku mengedarkan pandanganku, mencari-cari tempat duduk yang kosong. Tiba-tiba ada satu penumpang yang melambaikan tangannya ke arahku. Dia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari ke arah lelaki itu dan duduk di sampingnya.

“Ah, akhirnya.” Ucapku sambil menghela nafas lega.

Aku tak peduli jika lelaki ini mungkin saja berniat buruk padaku. Aku hanya tidak ingin tiba-tiba pingsan di depan. Entah kenapa, aku merasa salah tingkah setelah tak sengaja melihat wajahnya tadi. Aku pun mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Dinginnya udara di luar masih terasa menusuk kulitku padahal aku sudah duduk manis di dalam bus. Karena tak tahan dengan dinginnya, aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku dan sesekali meniupnya agar terasa hangat. Karena merasa sangat mengantuk, tak terasa aku pun tertidur.

Tiba-tiba terasa ada yang menepuk-nepuk pipiku pelan. Aku pun membuka mataku. Dan pemandangan pertama yang ku lihat adalah wajah lelaki di sampingku. Aku pun sontak membelalakkan mataku karena kaget. Bagaimana tidak,  jarak wajah kami sangat dekat sekarang. Aku baru tersadar bahwa kepalaku saat ini sedang bersandar di bahunya. Aku pun segera mengangkat kepalaku.

“Kenapa pipimu memerah?” tanya lelaki itu.

“A.. ah, tidak apa-apa.” ucapku sambil mengalihkan pandanganku dari matanya.

Wahh, jantungku terasa ingin meloncat dari tempatnya. Suaranya sungguh sangat enak didengar. Aku rasa aku bisa mendengar suara itu berulang kali. Tau begitu, harusnya tadi kurekam suaranya.

“Kau gila atau bagaimana?” tanya lelaki itu lagi

“M... maksudnya?”

“Ini sedang turun salju, dan kau hanya memakai jaket setipis itu. Lihat wajahmu, sampai pucat seperti itu.” ucapnya tegas

Aku yang terkaget mendengar ucapannya hanya bisa diam.

“Mendekatlah.” ucapnya lagi. Kali ini suaranya sedikit melembut.

Aku benar-benar bisa pingsan sekarang ini. Entah kenapa tubuhku terasa kaku, dan pipiku memanas. Mataku terkunci pada matanya yang berwarna coklat dan hangat itu.

“Baiklah, jangan bergerak” ucap lelaki itu sambil tersenyum dan perlahan dia melepas syal yang melilit lehernya. Kemudian ia memasangkan syalnya di leherku.

Sudah, jangan ditanya bagaimana wajahku sekarang ini. Aku yakin pipiku sudah memerah seperti tomat yang direbus. Wajah kami benar-benar sangat dekat. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Aku hanya terdiam sambil menatap ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di depanku ini. Sampai tiba-tiba lelaki ini menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

“Aku hanya ingin menghangatkanmu. Kau boleh melanjutkan tidurmu lagi.”

Dan entah mengapa tiba-tiba air mataku mengalir, menetes di punggung tangannya.

“Hey, kau kenapa?” tanyanya sambil melihat wajahku.

“Kau menangis? Kenapa?” tanyanya lagi.

Dan aku hanya mampu menggelengkan kepala. Aku sendiri tak tau mengapa tiba-tiba air mataku keluar. Aku hanya merasa tiba-tiba hatiku menghangat.

“Sudah ya menangisnya. Aku tidak bisa melihatmu menangis.” Ucap lelaki itu sambil mengusap air mataku.

Tapi, bukannya berhenti, air mataku justru semakin deras mengalir. Ketika aku menutup mataku, tiba-tiba terasa ada sesuatu yang lembut di bibirku. Saat aku membuka mata, ternyata lelaki ini menciumku. Saking kagetnya, aku hanya terdiam sambil membelalakkan mataku.

“Nah, ternyata caraku menghentikan tangisanmu sangat efektif. Lihat, air matamu sudah berhenti mengalir.”

“Tidurlah, kau pasti lelah.” Ucap lelaki itu lembut sambil tersenyum dan menyandarkan kepalaku di bahunya

Pelukannya benar-benar hangat. Sebenarnya aku tak ingin tertidur. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa takut kehilangannya. Tapi, tangannya yang tak berhenti mengelus-elus rambutku benar-benar sukses membuatku memejamkan mata. Sampai aku tak sadar telah tertidur berapa lama. Karena ketika aku membuka mata, lelaki itu telah menghilang. Dia sudah pergi, tanpa pamit. Dan air mataku mengalir. Lagi.

Kita bahkan belum sempat berkenalan. Mana bisa dia pergi begitu saja. Syalnya saja masih terlilit dengan rapi di leherku. Ah, dasar lelaki. Saat kulihat ponselku, ada selembar sticky note berwarna kuning yang menempel. Aku buru-buru turun dari bus dan membaca sticky note berwarna kuning menyala tersebut.  

Hey, namaku Aksara. Hati-hati ya pulangnya. Maaf, aku tidak sempat berpamitan denganmu, karena kamu tertidur sangat nyenyak dan aku tidak tega membangunkanmu. Jangan sering-sering menangis ya. Oh iya, bawa saja syalku. Itu sudah menjadi milikmu. Dan maaf, tadi sudah lancang menciummu. Kau bisa memarahiku dan meminta ganti rugi kepadaku nanti. 2,5 tahun lagi, setelah aku selesai melaksanakan wajib militerku, aku akan menemuimu. Aku janji. Tunggu aku.

“I’ll wait for you, Aksara. I will.” Lirihku sambil memeluk syal milik Aksara.


Saya Rofiqotul Maulidan Nafdilah. Lahir di Kota Malang pada tanggal 13 Maret 2001. Sampai saat ini saya sudah 19 tahun tinggal di Kota Malang. Saya merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Saya hanya seorang mahasiswi tingkat 3 yang memiliki segudang impian, salah satunya yaitu melanjutkan pendidikan di Seoul National University.

 

 Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Twilight Connoisseurs"

 

 

 

 

 

 

 

Komentar